Showing posts with label Politik. Show all posts
Showing posts with label Politik. Show all posts

Wednesday, 3 December 2014

Kicauan tentang Surat Edaran no 13 tahun 2014.

Beberapa jam lalu saya membaca postingan tentang Surat Edaran no 13 tahun 2014 tentang Gerakan Hidup Sederhana Pegawai Negeri Sipil di media social Facebook. Sempat berpikir bahwa itu Hoax, masa sih pemerintah sekarang mencampuri urusan pribadi pegawai???


Kemudian ketika membuka path, saya menemukan postingan serupa. Membuat saya semakin bertanya ini beneran ada Surat Edaran ini?

Ketika saya bertanya pada Ibu saya yang PNS, beliau malah bertanya "SE nya keluar tanggal berapa? di kantor belum ada rame-rame soal itu." Setelah saya googling dan menuju ke web Menpan nya langsung, ternyata Surat Edaran tersebut benar adanya. [caption id="attachment_1259" Surat Edaran no 13 tahun 2014

SE no 13 tahun 2014 sumber: http://www.menpan.go.id/jdih/permen-kepmen/se-menpan-rb/file/4465-semenpan-2014-no-13
Surat Edaran no 13 tahun 2014
sumber: http://www.menpan.go.id/

Maka, izinkan saya berkicau lagi tentang kebijakan pemerintah yang sedang ramai dibicarakan ini.

Jujur, saya tergelitik membaca point-point tentang hidup sederhana khususnya point no 1 dan 2.

"1. Membatasi jumlah undangan resepsi penyelenggaraan acara seperti pernikahan, tasyakuran dan acara sejenis lainnya maksimal 400 undangan dan membatasi jumlah peserta yang hadir tidak lebih dari 1000 orang.
2. Tidak memperlihatkan kemewahan dan/atau sikap hidup yang berlebihan serta memperhatikan prinsip-prinsip kepatutan dan kepantasan sebagai rasa empati kepada masyarakat."

Tentang Hidup Sederhana ala PNS
Well, anjuran seperti itu benar adanya, meskipun seharusnya bukan hanya tertuju pada PNS, tetapi juga pada seluruh warga negara. Karena mungkin hanya sepenglihatan saya saja dimana PNS yang menggunakan mobil pribadi jumlahnya masih bisa di hitung jari dibandingkan dengan karyawan bank swasta ataupun karyawan swasta lainnya.

Lalu berapa banyak PNS yang kalian kenal yang hidupnya diatas rata-rata? jika mereka berkecukupan, pertanyaan keduanya adalah apakah mereka memiliki usaha sampingan? apakah suami/ istrinya juga PNS? pertanyaan ketiga nya adalah berapa lama masa bakti (masa kerja) mereka?

Hidup dari keluarga yang mayoritas jadi PNS membuat saya hanya ketawa sendiri, ini yang ngajuin kebijakan ini udah berapa puluh tahun jadi PNS? Karena sepenglihatan saya, belum ada keluarga PNS saya (yang rata2 udah puluhan tahun jadi PNS) yang mampu beli rumah/ kendaraan pribadi tanpa nyicil.

Nyicil rumah masuk mewah ya? kalau yang beli rumah cash atau sewa pulau untuk liburan pribadi termasuk apa dong?

Kalaupun saya punya kakak sepupu PNS yang sudah punya mobil baru dan rumah bertingkat, saya mau nambahin suaminya pelaut, gaji pelaut lau cari tau aja sendiri ya.

Tentang tidak memperlihatkan kemewahan dan atau sikap hidup yang berlebihan, berapa banyak memang PNS yang hidupnya mewah? jika takaran kalian adalah pegawai di kementrian-kementrian pusat, coba lah menengok ke daerah, khususnya daerah-daerah terpencil. Tidak sedikit guru (ingat beberapa guru sekolah negeri termasuk PNS mas-mba) yang hidup sederhana, tidak sedikit bidan dan dokter (ingat juga pegawai kesehatan ada yang menjadi PNS) yang bersepeda/berjalan kaki menuju lokasi tugasnya.

Jadi tentang hidup sederhana sebaiknya anjuran tersebut berlaku untuk semua individu, tidak hanya untuk PNS. Ada baiknya, muncul surat edaran lagi kepada seluruh perusahaan (bank, swasta,dll) untuk tidak memperlihatkan kendaraan pribadinya di publik, tidak membangun rumah bertingkat, agar tidak menumbuhkan kecemburuan sosial dan sebagai wujud rasa empati terhadap rakyat.

Ini serius looh, mending kita ala negara komunis gitu, rumah si kaya banget, si kaya aja, dan si sederhana sama bentuknya, jadi gak ketauan tooh sebenernya siapa yang paling kaya.


Undangan tidak boleh lebih dari 400 undangan/ 1000 tamu.
Ooh well, ini sebenernya mencampuri urusan pribadi banget loh Pak Menteri dan Pak Presiden. Mungkin sebaiknya diperjelas lagi point-nya, apa ini berlaku untuk anak/keluarga PNS atau hanya PNS itu sendiri.

Gimana hukum undangannya saya yang bukan PNS tapi orang tuanya PNS? saya boleh gak pas nikahan nanti ngundang lebih dari 400 undangan??? temen kampus saya banyak loh pak, secara udah 3 kali kuliah, belum dulu saya aktif di organisasi, nanti saya di bilang sombong kalau gak undang-undang.

Ya, jaga-jaga aja pak, siapa tau saya nikah sama artis sekaliber RafiiAhmad, atau mungkin siapa tau saya nikah sama pengusaha kelas international yang cliennya tersebar di seluruh pelosok nusantara dan asia tenggara? harus 400 undangan juga? atau boleh kali ya 400 undangan di resepsi Sukabumi, 400 undangan di resepsi Bandung, 400 undangan di resepsi Jakarta, 400 undangan di resepsi Bali, dan 400 undangan lagi di resepsi Singapore.

Oke kalau ternyata untuk anak PNS macem saya adalah pengecualian, lantas bagaimana nasibnya PNS single yang lagi pacaran dan akan nikah sama pengusaha tambang (lirik temen saya yang mau nikah), apa dia juga dibatasi undangannya? Padahal keduanya dari keluarga pengusaha, temen sayanya aja yang milih buat PNS-an dari pada bantu-bantu bapaknya ngurus perusahaan. Apa kasus kayak dia juga di batasi undangannya pak?

Itu baru undangan nikahan, terus gimana soal undangan tasyakuran khitanan, aqiqah, walimatul syafar, 40 harian, dll dkk,dsb ??? Belum lagi dibeberapa daerah dan suku tertentu, mengundang hampir 1000 tamu itu hal yang lumrah, 3 hari 3 malem lagi.

Jadi menurut saya soal undangan ini sepertinya saya harus setuju dengan bapak Arief Syaiful, PNS dari KemenSekneg yang menilai bahwa Pemerintah sebaiknya memperhatikan batas-batas apa saja yang seharusnya tidak disentuh atau diintervensi, khususnya hak privat yang dihormati. (baca: Facebook Pak Arief)

Kalaupun maksudnya agar lebih terlihat sederhana, sebaiknya keluarkan juga edaran bahwa PNS dilarang menyekolahkan Anaknya ke Luar Negeri atau hingga jenjang S2.

Naah Looh kok gitu?
Laah, kuliah ke luar negeri tanpa beasiswa juga tidak menunjukkan hidup sederhana, kuliah di dalam negeri aja udah mahal, lau lagi kuliah di luar. Baca dari web ini biaya untuk kuliah S1 di Singapore rata-rata 180juta/ tahun. Kalau 4 tahun berarti sekitar 720juta.CMIIW

Terus saya tadi Whatsapp personal temen saya yang sedang S2 di Jepang, untuk biaya hidup sehemat-hematnya adalah 6-8 juta perbulan, which is hampir 60 juta pertahun. Itu dia di Kyoto. belum termasuk biaya kuliahnya. (FYI dia ini kuliah S2nya beasiswa ya, bukan biaya pribadi)

Terus untuk S2, biaya S2 di dalam negeri itu tidak bisa dikatakan murah, untuk MM UI biaya per semesternya paling murah 15 juta. 4 semester 60 juta, biaya masuk awal 7juta berarti udah 67 juta, belum termasuk biaya buku dan lain lain. yaah anggap lah 80 juta sampe lulus.

Narasumber sedang S2 di Kyoto, sebelumnya S1 pernah study exchange juga di Chiba
Narasumber sedang S2 di Kyoto, sebelumnya S1 pernah study exchange juga di Chiba

WA tanya temen yang kuliah di MM UI  Lulus 2012
WA tanya temen yang kuliah di MM UI Lulus 2012

Tuuh,kuliah di luar negeri ternyata sama mewahnya sama resepsi lebih dari 400 undangan kan??? lanjut S2 juga ternyata hampir setara catering 1000 tamu kan ya??? (estimasi nilai makanan rp 80.000/ porsi).

Kalau resepsinya di kota kecil macem Sukabumi sih 80 juta udah bisa di resor pangrango plus 500 undangan. (duuhh kelebihan, harusnya 400 undangan)

Jadi menurut saya sih harusnya keluar juga tuh Surat Edaran yang menyatakan anak PNS (Menteri, Presiden, Kepala-Kepala Badan, Anggota DPR-MPR, termasuk PNS gak?) tidak boleh kuliah di luar negeri sebagai bentuk empati terhadap rakyat yang tidak mampu kuliah.

Laah orang anaknya juga pake biaya sendiri kok kuliahnya, beasiswa malah...
Laah terus sama juga dong, kalau acaranya kegiatan yang undangannya disponsori dan dibiayai oleh pihak lain non PNS  berarti boleh juga dong. Misal bapaknya PNS mau naek Haji, anaknya udah jadi pengusaha. Apa salah anaknya biayain acara selamatan dengan ngundang 1001 anak yatim? kan yang ke pake uang anaknya bukan uang bapaknya.

Bilang aja kamu gak suka sama pemerintahan sekarang, cari-cari alesan buat kritik.
Selama kebijakannya masih masuk akal, saya dukung kok, tapi kalau udah nyindir area private, saya akan sampaikan kritiknya. Dan, justru kritik ini biar pemerintah memperjelas setiap kebijakannya, jangan membiarkan masyarakat kayak saya membaca surat edaran tersebut dari sisi yang berbeda.

Kalau sudah diperjelas, Insya Allah ada dua kemungkinan dari pihak yang kritik, yang manggut-manggut ngerti dan jadi setuju, dan yang tetep mengkritik.

Intinya, setiap kebijakan yang dikeluarkan harusnya jelas dan terperinci, serta tetap memperhatikan kultur budaya setempat. Kebijakan yang pemerintah keluarkan sejatinya untuk kebaikan bangsa, tapi hindari untuk menyinggung area privasi.

Karena tidak semua orang suka privasinya dicampur aduk dengan kerjaan dan di atur-atur tanpa penjelasan.

Sekian dan terima kasih


with much wonder and though

@inirindu

ps: if you have other comment and perception, just share and discuss here.

update: Screencapture percakapan di WA dengan narasumber temen gue, Mahasiswi S2 di Kyoto, dan  alumni MMUI lulus tahun 2012

Wednesday, 19 November 2014

Kicauan Tentang BBM*


HeyHoo...

Sekian lama gak nulis di blog, hari ini gue berhasil mengalahkan rasa malas untuk menuangkan sebagian pikiran gue di blog ini.

Topik posting ini gak jauh dari topik terpanas di tipi-tipi yaitu tentang BBM.

Gue pribadi sebenernya gak setuju BBM naek, karena BBM naek = semua harga ikutan naek, tapi gaji belum tentu naek, omset dagangan OLShop belum tentu naek juga. #EhMaafCurhat

Gue masih berusaha positif thinking, dan meng amini bahwa rezeki orang emang gak akan tertukar, Allah pasti akan membuka rezeki rakyat Indonesia lebih besar lagi. Aamiin

Gue masih berusaha positif thinking, terhadap pemerintah, iya mungkin beban pemerintah sebenernya buanyak banget, dan mungkin si BBM ini adalah yang paling banyak nyedot anggaran pemerintah, ya mungkin ya, karena gue gak tau keuangan pemerintah yang sebenernya.

Gue masih berusaha positif thinking, terhadap pendukung kenaikan BBM ini. Karena mungkin mereka sudah melihat bahwa jumlah pendudukan yang miskin cuma dikit, cuma sepengihatan matanya aja. Ya Mungkiiinn loh ya.

Tapi, ditengah ke-positif thinking-an gw ini. Udah lama banget gue suka bilang dan nanya ke orang-orang, sejak pemerintahan Opah BeYe dulu waktu naekin BBM (meski saat itu minyak dunia emang lagi naek), dan ketika sekarang pemerintahan Amang Owi yang kemaren naekin harga BBM (meski saat ini minyak dunia lagi turun).

Apa yang gue bilang dan tanyain ke orang-orang?

"Kenapa harus BBM yang di naekin sih? kenapa gak pajak kendaraan pribadi non muatan ala pick-up yang dinaekin, parkir dimahalin, tilang dimahalin juga?" (Inget KENDARAAN PRIBADI bukan UMUM)

Kenapa? Iya kenapa gak elemen itu aja yang dinaekin?

Kan yang bikin pemerintah nyaris frustasi akibat BBM ini adalah pengguna BBM ini mayoritas pengguna kendaraan pribadi, yang membuat BBM subsidi ini gak tepat sasaran. Jadi kenapa gak sekalian naekin pajak, parkir, tilang juga.

Gue selalu berandai-andai, parkir di Indonesia harganya perjam nya bisa nyampe puluhan ribu, tilangnya minimal lima ratus ribu, pajak kendaraannya pertahun minimal buat motor dua jutaan, pajak mobil pertahun minimal 10jutaan, dan yang paling gue andai-andai adalah gak boleh ada yang beli kendaraan dengan sistem nyicil semua harus KONTAN bin LUNAS.

Kok lo jahat sih? artinya orang miskin gak boleh punya kendaraan bermesin gitu?

IYA emang mestinya gitu, biarin aja yang punya kendaraan cuma orang yang kaya dan mampu beneran. Biar orang-orang beralih ke kendaraan umum. Karena cuma kendaraan umum yang pajak dan parkirnya ringan (tilang harus tetep mahal biar pada displin berlalu-lintas juga).

At least dengan gitu masyarakat mikir ulang kalau mau beli kendaraan, kalau punya kendaraan lebih displin juga karena tarif tilang ratusan rebu. Mau beli kendaraan juga mesti nabung karena mesti kontan dan pajaknya mahalan, parkir juga gak mau lama-lama karena mahal juga.

Tetep aja transportasi umum di Indonesia mengkhawatirkan, udah gitu akses ke rumah/ kantor gw susah!

Ya mengkhawatirkan karena mereka kalah saing sama kendaraan pribadi yang diobral cukup dengan fotokopi KTP+KK+slip gaji sudah bisa membawa motor. Balik lagi seperti yang gue bilang, kalau elemen pajak, parkir, dkk itu dinaikin berkali-kali lipat, menurut ngana seberapa banyak orang yang mau bawa mobil/ motor pribadi? mau kerja bawa motor, perjam parkirnya 10rb di kali minimal 8jam kerja, sehari buat parkir doang abis 80 ribu, belum lagi biaya BBM nya. Gaji lo cuma 3,5 juta. emmmmmm masih mau bawa motor?

Akses ke rumah/ kantor susah? kan jadi peluang buat dishub buka trayek angkutan baru juga kan? atau lo jadi sehat karena bisa sepeda-an dan jalan kaki-an, atau kalau mau lebih kece rollerblade/sepatu roda-an

Pajak dari kendaraan gak akan nutup subsidi ini itu buat rakyat mba!

Setidaknya pemerintah gak berat banget kebebanin subsidi BBM, karena pada saat diterapin pajak+parkir mahal ini, yang beli BBM pastinya orang yang punya kendaraan, yang insya allah orang mampu.

Iyalaah mampu, pajak ma parkir aja mahal. Beli mobil ma bayar parkir mampu masa BBM gak mampu? Setidaknya kalaupun pemerintah naekin BBM kayak sekarang, yang ngeluh bukan masyarakat kecil yang kena imbas kenaikan aneka barang-barang lainnya.

Lo tau Indonesia kan? Pajaknya bisa di korup sist!

Loohh kan kita katanya mau revolusi mental dan revolusi birokrasi, bisa laaah pecatin-penjarain itu yang suka tilep2 uang hasil tilang.

Kok pemikiran lo cetek banget sih sis??

Ya, gue kan di awal udah bilang, gue cuma berandai-andai. Kan konsumsi BBM subsidi ini katanya banyak dipake oleh kendaraan pribadi, ya kalau gitu biar tepat sasaran BBM nya dan gak nyengsarain rakyat kecil, mending sengsarain yang punya kendaraan pribadi biar beli pertamax atau shell plus.

Kalau gitu industri otomotif bisa mati karena gak ada yang beli!

Kalau menurut gue jumlah kendaraan di Indonesia terutama di kota Besar itu udah kebanyakan, kepikir gak kalau dengan gitu jalanan bisa lebih lenggang dan gak ada macet. Lo masih pilih industri otomotif yang turun omset daripada negara yang defisit karena masalah yang itu-itu mulu? (BBM subsidi mulu kan alesan pemerintah defisit?).

Kalau menurut gue dengan aneka biaya kepemilikan kendaraan yang mahal dan sulit ini, yang pake BBM jadi dikit. Kalau dikit, beban subsidi juga jadi berkurang.

Stok BBM amaan, subsidi amaan...

INGAT perumpamaan ini buat kendaraan PRIBADI bukan buat KENDARAAN UMUM, KENDARAAN PENGANGKUT BARANG dan PERAHU NELAYAN.

dan Ingat juga ini cuma opini pribadi semata, kalau ada yang berpendapat lain, yuk mari di share, biar gue ada pencerahan lain dan tetep positif thinking.

*Ditulis oleh orang yang sedang berandai-andai dan lagi pengen eksis ngomentarin BBM biar kayak pengamat dadakan lainnya.

Sekian dan Sampai Jumpa.

Friday, 25 July 2014

Renungan Kecil, Setelah Pilpres...

Selama dua bulan gw berusaha mingkem untuk gak nulis panjang soal perpolitikan, tapi hari ini gw pengen muntahin semua itu di sini, di blog tempat gw nyampah ini.

Gw cuma orang biasa. Bukan lahir dari keluarga yang gemar berpolitik, tidak berkuliah di jurusan politik, tidak bekerja di bidang politik, gak aktif di kelompok politik, kalaupun dulu gw tergabung dengan Senat Mahasiswa posisi gw ada dibidang yang gak ngurusin politik, dan gw cuma sekali ikutan demo bareng temen-temen BEM UI ke DPR RI nuntut tentang biaya pendidikan, itu juga gw malah selfie. -___-"

Jadi, tulisan gw kali ini yang temanya nyerempet politik hanyalah sebuah opini orang biasa yang mungkin sok tau dan masih gak bener menggunakan EYD.

Back to topic. PILPRES... Ini bukan pilpres pertama buat gw, dari awal NKRI ngadain pemilihan Presiden secara langsung oleh rakyat, gw udah ikut berpartisipasi. Dari mulai putaran pertama 2004 sampai putaran maha dasyat 2014 kemarin. Jadi paling gak masih ada keselip memori tentang pilpres 5 dan 10 tahun yang lalu yang pernah gw ikutin, gw alami sendiri, tanpa embel-embel katanya...

Jelas, pilpres dulu gak seheboh dan sedasyat tahun ini. Awal Pilpres diselenggarakan isu yang beredar gak se-ekstreme sekarang, kalau ada pihak yang kecewa juga gak sehingar-bingar sekarang. Seinget gw pilpres dulu lebih 'aman', meski black campaign tetep ada, isu money politic dan serangan fajar juga udah gak aneh. Media masih cukup fair dan imbang dalam memberitakan masing-masing pasangan ca-preswapres. Yang paling penting dulu social media dan forum-forum berbasis internet masih dikit baik itu jenis maupun penggunanya. Sebut aja tahun 2004, paling laris Friendster, LiveConnector, Hi5, terus ntah gw juga lupa. Kemudian tahun 2009, muncul Facebook, Twitter, Kaskus, terus???

Mungkin kalau ada yang masih punya ingetan maha dasyat di kedua tahun (2004 & 2009) tersebut akan sadar satu hal, bahwa pengguna social media saat itu lebih menata ucapan yang di posting tentang politik. Faktor takut kah? menurut gw gak, lebih ke faktor karena socmed memang dijadikan hiburan dan ajang silaturahmi bukan ajang jualan politik.

Kalaupun ada yang promosi atau ataupun bermuatan black-campaign tentang capres lawan, sungguh bahasanya sangat tertata, tidak mengundang emosi, sehingga yang setuju ataupun tidak setuju dengan pernyataan tersebut juga lebih terjaga lisannya. Kalaupun ada yang nyeleneh dengan menggunakan kata-kata kurang sedap, masih bisa dihitung jari. Itupun ke-nyelenehannya masih tergolong wajar kalau menurut gw. Politikus dadakan juga muncul hanya sesekali, dari golongan garis keras sekelas anak BEM dept. sospol, mahasiswa politik, adm negara, hukum, dll yang memang sebenernya masih dijalur kenegaraan.

Dan memasuki Pilpres 2014... Subhanallah... betapa gw rasanya pengen bawa lem korea (power glue) buat dituang ke mulut dan tangan mereka yang koar-koar di social media. Jujur, gw gak masalah mereka mau kampanye tiap 5 menit sekali di FB, Path, Twitter, BBM, LINE, Whatsapp, itu mah terseraaaaah... Tapi yang bikin gw kesel adalah penggunaan kata-kata yang kasar yang bikin emosi. Seolah kalau gw gak satu pilihan sama mereka gw adalah orang ter-tol*l dan ter-haram untuk dijadikan teman.

Tersebutlah suatu hari, di sebuah group social media, ada dua kubu pendukung 1 dan pendukung 2. Sama-sama berkampanye, sama-sama nyebar isu negatif. Hari itu gw gerah karena salah satu diantara mereka menyerukan kata yang menurut gw gak pantes aja buat diucap. Gw tidak sedang membela capres lawannya, hanya mengingatkan bahwa ucapannya itu bisa nyulut emosi, kalau mau kampanye yang lebih asik biar masuk ke hati orang yang belum menetapkan pilihan. Penyataan gw disampaikan dalam 1 kalimat pendek, yang gak nyampe 5 baris dilayar chat Whatsapp.

Tau responnya apa? gw dimaki-maki meeen... komen 1 kalimat dibales 1 bab, bahkan secara personal dia bilang gw adalah "golongan domba tersesat yang gak bisa diselamatkan" karena membela capres lawannya. o_O Perasaan mah da gak bilang gw dukung capres itu.

Sejak hari itu, gw berusaha diem dan mengamati social media aja, bukan karena gw takut dikatain lagi, tapi gw sadar satu hal. Ada fenomena baru di pilpres kali ini. Ada Tuhan dan Agama Baru yang ditemukan teman-teman gw dan para simpatisan (gw menyebutnya fansboy dan fansgirl). Tuhan itu bernama masing-masing pasangan capreswapres, dan agama baru mereka adalah Politik.

Sadar gak sadar, coba deh perhatiin ketika jagoan mereka diledek sedikit, maka luar biasa marahnya, luar biasa pembelaannya, luar biasa dukungannya, seolah jagoan mereka gak pernah salah, gak pernah dosa, gak pernah ngecewain. Dan ramai-ramai mereka memeluk Politik, ibadah sehari-harinya baca artikel terkait kebaikan jagoan dan keburukan lawan, doanya adalah kampanye lisan berbalut kata-kata provokatif. Bahkan gak tanggung-tanggung ada yang menantang publik dan sang pencipta demi Tuhannya yang baru itu. Sadiis mendekati Sakit.

Dan kemudian gw mulai eneg... emosi gw mulai tersulut. Gw mulai ngerasa ekspektasi mereka akan jagoannya terlalu berlebihan, puncaknya di saat masa tenang, masih aja ada yang kampanye nyinyir bikin sakit jiwa. Gw yang udah kelewat kesel akhirnya posting di Path:

sumber: mein path https://path.com/p/1NzLmj

Andai aja ada rukyah masal, gw pengen banget daftarin mereka yang masih kampanye dengan kata-kata nyinyir. Siapa tau kan gitu abis di rukyah jin-jin nya pada keluar terus mereka insyaf. -___-"

Usai nyoblos ternyata kegilaan ini belum usai, karena masalah Quick Count fansboy dan fansgirl pada nyinyir lagi. Aduuuh itu mulut, boleh dong dikasih lem uhu bentar aja. Okelah si tipi itu memang berbeda, tapi cukup lah postingnya yang lucu-lucu aja gak usah pake kata gobl*k, tol*l, sint*ng, set*n, kaf*r dkk dan kerennya kata-kata kayak gitu keluar dari social media orang yang cukup berpendidikan.

Belum cukup sampai di urusan Quick Count, 22 Juli kemaren socmed heboh lagi karena pengumuman KPU. Lupakan soal Capres No1 yang dinilai emosional karena ngeluarin ultimatum buat KPU dan menarik mundur timnya alias walkout. Lupakan kemenangan Capres No 2 yang mencapai 53%, dengan selisih suara 8jutaan. Kemenangan itu memang layak dirayakan, yang belum menang di pemilu ini pun memang akan terlihat seru kalau sempat mengucapkan selamat terlebih dahulu.

Lagi, fansboy-fansgirl menanggapi ini dengan berlebihan meski gw gak menampik ada yang mengucapkannya biasa saja, ada yang merayakan cukup dengan Alhamdulillah, ada pula yang menyikapi dengan mengucap yasudahlah kalau bukan dia presidennya. Tapi ada juga yang kemudian mencemooh, kembali mengucapkan kata-kata 'keren' mahajuara itu.

Well, kalau yang bilang kata-kata 'keren' itu adalah bocah alay, atau pekerja kasar yang pergaulannya dilingkungan yang *maaf* pendidikannya masih minim, gw akan maklum. Lah ini yang ngomen alumni mahasiswa (bahkan ada yang S2), dosen, karyawan perusahaan bonafid, PNS, dan masih banyak lainnya yang menurut gw harusnya lebih bisa pilah-pilih bahasa.

Tanpa bermaksud sok high-class, gw ngerasa miris aja ngeliat fenomena ini. Tingkat pendidikan yang tinggi itu ternyata gak dibarengi dengan kesopanan yang seharusnya. Dan kemudian masing-masing saling claim bahwa mereka gitu karena kubu sebrang yang memulai. Duh, ini tuh bukan lagi perang macem Israel-Palestine. Atas nama membela diri kirim roket bertubi-tubi, dibales sekali, kemudian diserang lagi.

Kebayang gak kalau yang kelontar dari mulut kita itu roket beneran, sekali nyeplos *Buuum* mati tuh, ntah berapa orang, terus dibales sama kubu sebrang... *buuuummmmm* mati lagi tuh orang-orang disana. Terus aja sampe gak bersisa... setelah itu yang perang negara-negara lain berebut dapetin tanah Indonesia. kalau udah gitu salah siapa? ada gak yang mau salahin diri sendiri, kenapa bisa gampang kebawa emosi ketika teman yang beda pendapat berbicara berlebihan...

Terus berkat perang di dunia maya, siapa yang untung? yang untung ya provider internet, pengelola social media. Berkat kita-kita yang posting berlebihan selama pilpres pendapatan mereka gw rasa naek drastis.

Aah renungan kecil gw terlalu kepanjangan... buat gw, kali ini udah gak penting saling serang antar pendukung. izinkan gw share status dari orang yang gw gak kenal...

sumber: Repath dari pathnya Octa

Buat gw sekarang ada yang lebih penting dari sekedar nyinyir tentang menang-kalah, karena nyinyir cuma nambah dosa, cuma nambah bikin orang sakit hati dan kesel yang bacanya, lebih baik gw berdoa. Doa untuk pemimpin baru, untuk pengganti Pak SBY... doanya cukup gw ucapkan dalam hati, yang lain silahkan ucapkan sendiri masing-masing, karena gw yakin tiap orang punya doa yang berbeda.


Dari gw yang masih tetep orang biasa...
#PilpresUdahLewatMeeen #UdahanBerantemnya #UdahanNyiyirnya #RukyahMasalYuk

Thursday, 15 May 2014

Capres oh Capres...

Posting kali ini agak berbau politis, dan ini postingan yang asli meluncur gitu aja dari pikiran saya yang sotoy soal politik.

Beberapa hari yang lalu saya liat diberita kalau Joko Widodo resmi mengajukan CUTI sebagai Gubernur Jakarta (DKI1), karena dia mau fokus dengan tugas barunya sebagai Calon Presiden RI diusung dari PDI-P. Respon pertama saya waktu baca berita ini adalah "Diih" begidik geuleuh dan kesel. Eitss tunggu bukannya saya itu #AntiJokowi loh ya, tapi rasanya kok gak adil ya buat Warga DKI dijadiin second option.

Ibaratnya cowok, ni cowok lagi ngajak ceweknya break dulu. Bukan karena bosen atau karena gak sanggup, tapi karena dia mau coba-coba ngelamar cewek lain. Kalau cewek lain itu nerima, ya dia putus lah sama ceweknya yang lama, tapi kalau ditolak ya ni cowok balikan dan kembali merajut kasih dengan cewek lamanya.

Ibarat yang lain nih ya, kayak karyawan lagi kerja di perusahaan terus izin gak masuk karena ada interview di kantor lain, kalau diterima di kantor lain ya otomatis resign dari kantor lama, tapi kalau gak lolos interview dan test ya balik lagi ke kantor lama.

Pertanyaan dari saya? cewek baik mana yang mau dijadiin second option dari cowok di atas, dan kantor kece mana juga yang gak ngambek dijadiin second option karyawan di atas?

Terlepas dari Pak Jokowi yang mungkin sebenarnya masih ingin bebenah DKI, sejujurnya saya akan respect kalau Jokowi praktekin take or leave option. Kalau memang ingin jadi presiden, ya mundur lah dari jabatannya sekarang, fokus jadi capres tanpa embel-embel sedang CUTI dari DKI 1. Kalau memang ingin maju dan menata dulu Jakarta ya dia harus berani dan legowo untuk tidak nyapres.

Kembali lagi ke pernyataan saya di awal. Saya bukannya #AntiJokowi. Sejauh ini saya googling, Solo cukup maju saat di pimpin Jokowi, Jakarta juga ada perubahan, dan mungkin Indonesia juga kan berubah (semoga ke arah lebih baik) jika dipimpin oleh beliau. Saya cuma iseng menganalogikan Jokowi dan Warga Jakarta yang ditinggal CUTI seperti perumpamaan-perumpamaan diatas.

Secara frontal maaf saya harus negatif thinking dengan bilang "Pak, ini Bapak atau Partai ya yang masih haus kekuasaan dan jabatan? Kok ragu untuk melepas jabatan lain untuk calon jabatan yang baru?"

Akhir kata semoga Warga DKI legowo untuk dijadiin second option.

Tertitip salam dari saya...


Warga Jabar yang sering mencari berlian di Jakarta.