Showing posts with label ngena. Show all posts
Showing posts with label ngena. Show all posts

Monday, 26 May 2014

Karena Allah Sayang Pada-Mu...

Entah kenapa beberapa hari terakhir gw mimpiin seseorang, seseorang yang buat gw pernah begitu special. Sebut aja saat itu masa kebutaan gw. Buta karena tidak lagi bisa membedakan mana yang tulus dan mana yang memanfaatkan.

Orang ini pernah bener-bener bikin pikiran gw jungkir balik, gak lagi pake logika saat gw bareng dia, all i wanna do is make him always smile and feel comfort with me. Dia bener-bener bikin gw lupa daratan, sungguh dia itu bikin gw lupa macem-macem.

Meski pada akhirnya gw dan dia ternyata dijauhkan, dan tidak lagi sedekat dulu. Gw harus mengakui bahwa diantara para pengoyak hati dan perasaan gw, dialah yang paling... paling bikin gw sakit hati.hhahaha shit emang!!!

Sampai detik ini, sejujurnya gw masih suka stalking, sekedar ingin tahu apa kabar dia, sehat kah? sudah bersama orang yang baru kah? apa kabar keluarganya? duh gusti katanya kecewa tapi masih ajeee di stalking-in...

Terkadang gw masih suka mikir, kenapa Allah gak menjadikan gw dengan dia, at least kenapa hubungan gw sama dia cuma stuck disitu-situ aja. Kenapa Allah malah ngejadiin dia sama yang lain, kenapa bukan sama gw? gak ada yang ngertiin dia selain gw deh.hahahaha *sound childish ya*

Dan sesungguhnya Allah udah maha baik banget menjauhkan gw dari dia, ntah apa yang terjadi kalau gw sampai sekarang masih sedekat dulu. Allah suka baik banget nunjukin betapa pilihan gw untuk menjauh itu gak salah, bahwa Allah masih ingin melindungi gw, masih ingin gw menjaga diri, masih ingin menunjukkan bahwa ada yang jauh lebih baik dari dia. TAPI... gw nya aja yang suka ngeyel, ngerasa sedih karena kehilangan partner in crime...

Hari ini... untuk kesekian kalinya... Allah menunjukan semua itu, Allah lagi-lagi menjawab doa gw ketika gw baru aja meminta untuk bisa dekat lagi sama dia, untuk bisa ngobrol dan mengutarakan uneg-uneg dan perasaan gw selama hampir 6 tahun ini. Sumpah itu rasanya suka bikin nyesek loh, mendem uneg2 selama 6 tahun.

Belum genap 24 jam gw berdoa,dan buuum terjawab lah sudah. Baru aja tadi, pas gw stalking account dia, gw menemukan sesuatu yang bikin gw lagi-lagi beristigfar dan disatu sisi bersyukur karena ternyata Allah beneran masih sayang sama gw. Gak perlu gw jabarin apa yang gw temukan, tapi hal itu cukup bikin gw merasa kecewa, itu memang postingan lama, sekitar 1,5 tahun lalu lah. Tapi dengan dia masih menyimpan postingan itu, cukup membuktikan bahwa ternyata dia belum banyak berubah, bahwa yang diserukannya ke gw untuk sama-sama menjadi pribadi baik ternyata masih hoax... hahahaha

Ya Allah, terimakasih atas rasa sayang mu untuk terus melindungi aku, terimakasih atas semua berkah mu dan semoga engkau selalu mengingatkan aku. Bahwa selalu ada makna dibalik semua rencanamu yang kadang aku salah artikan...
 
#SujudSyukur #SemogaKamuCepatBerubah

Monday, 8 April 2013

Quote

Mari kita sebut yang “semi-miris” dengan “romantis” saja. Karena kadang memang beda tipis. Nyeh, mungkin S2 bisa masuk kategori “what doesn’t kill you makes you stronger”—apapun arti “lebih kuat”.
MKS (via arcadeace)
- See more at: http://inirindu.tumblr.com/post/47447648005/mari-kita-sebut-yang-semi-miris-dengan#sthash.lX1K01uk.dpuf

Tuesday, 11 December 2012

Quote

Sebaik apa pun yg kita lakukan akan selalu ada orang2 yg sempit hatinya yg membicarakan kita… ambar- via Whatsapp

Thursday, 19 April 2012

Quote

untuk berdamai dengan masa lalu dan orang lain, maka pertama harus berdamai dengan diri sendiri terlebih dahulu. harus benar-benar berani untuk melangkah, karena hanya-berbicara selalu terlalu mudah untuk dilakukan. berhenti berharap pada sesuatu yang tidak pasti, karena Allah Yang Maha Memelihara, Allah yang memegang rahasia. Kalau jatuh ya tinggal bangkit lagi.
 -by @ayuprissa-

See more at: http://inirindu.tumblr.com/post/21385029999/justbebubbly-untuk-berdamai-dengan-masa-lalu#sthash.vlqDOyPC.dpuf

Saturday, 4 February 2012

Cukup Sekian...

Dia muncul begitu saja di kota ini, tiba-tiba. Dengan setangkai mawar putih di tangan kanannya, dan cokelat merk eropa di tangan kirinya. Mengumbar senyum manis yang dibuat-buat, dia menyerahkan kedua benda itu. Pada saya.

"Ini cokelatnya halal?" pertanyaan bodoh yang terlontar dari pikiran yang sedang konslet.
"Kabar gue baik!" jawaban yang kelewat gak nyambung. -_-"
"Gue gak nanya kabar lo!"

Diam. Hening. Cokelat dan Mawar itu ada di tangan saya.

"Jauh-jauh gue dateng dan lo malah tanya cokelat ini halal atau gak? Sadis!"
"Jauh-jauh lo dateng lintas benua ke kota ini, dan lo cuma bawa cokelat sama bunga? di Indonesia juga buanyak. Pelit!" *dicekek* *dilemparbata* *ditabrak*

Orang didepan saya ini cuma ketawa sambil ngaduk-ngaduk mocha float-nya.

"Kan lo suka cokelat!"
"Tapi gue lebih suka lo bawain gue bule!"
"Bule keteknya bau!"
"Emang gue minta lo bawain bule buat gue hirup aroma keteknya?"

Lagi-lagi dia cuma ketawa. Gak kreatip.

"Kenapa gue gak boleh ke rumah lo?"
"Karena gue gak mau, lo disangka cowo gue!"
"Mentang-mentang gue udah bukan cowo lo!"
"Emang gue pernah anggap lo cowo gue?" *dicekeklagi*
"Emang gue kurang ganteng ya buat jadi cowo lo!"
"Justru lo kegantengan buat jadi cowo gue, orang2 bisa nyangka gue babu lo majikan"
"..."
"..."
"Atau gue kurang pinter ya?"
"Heh lo ngeledek? Lo cumlaude, beasiswa s2 pula. Gue? D3 aja lulusnya sambil mewek2"
"..."
"..."
"Lo takut ya gue dijahatin si ***** kayak dia jahatin semua gebetan lo?"
"Perjanjian bodoh gue udah mau selesai akhir bulan ini. Lagi pula gue yakin lo pasti bisa hadapin dia, lo kan SAHABAT dia"
"..."
"..."
"Lo takut cowo ya?" #jleb.

Hening. Dia masih maenin mocha float-nya, saya mulai motekin kelopak bunganya *boong saya gak sejahat itulah*. Dia cuma senyum, liatin jalanan yang lagi macet dari lantai dua restoran fastfood.

"Kenapa lo gak bisa terima gue sih?"

Tarik nafas. Okelah kalau dia masih gak sadar juga, waktunya ingetin dia.

"Same reason..."
"What?"
"Karena lo pernah ninggalin orang lain demi gue, kalau lo pernah ninggalin seseorang untuk orang yang baru, maka gue harus siap jika suatu hari nanti lo juga akan meninggalkan gue demi orang yang baru lagi. Meskipun kata lo hubungan lo dan dia udah gak baik-baik aja, udah gak bisa dipertahanin, tapi pointnya adalah lo meninggalkan orang lain demi orang yang baru. Gue gak pernah mau kasus kayak gitu terulang sama gue!"

Saya diam, baru kali ini saya ngerasa sangat yakin dengan keputusan saya soal lope-lopean. Gak pernah seyakin ini. Lelaki dihadapan saya juga diem. Entah karena bingung atau karena udah gak tahan pengen juntrungin saya dari lantai dua.

Dia selalu menjadi lelaki tiba-tiba buat gue. Lelaki yang tiba-tiba muncul diketerpurukan saya ngadapin masalah dengan si psikopat sableng, lelaki yang tiba-tiba bilang gue sayang lo padahal statusnya masih in relationship, lelaki yang juga tiba-tiba pamitan pergi karena dapet beasiswa lagi di benua sana, dan hari ini dia menjadi lelaki yang tiba-tiba telpon dan bilang gue dikota lo lhoo. -_-"

"Kenapa sih stigma lo soal cowo itu picik banget? kan gak semuanya jahat"
"Iyah gak semuanya jahat, guenya aja yang apes ketemu cowo brengsek terus ya?"
"Emang gue brengsek?"
"Cowo brengsek cenderung gak ngerasa dirinya brengsek!"

Saya tau dari bola matanya yang hitam sempurna, dia sedang menyumpah serapahi saya. Tapi saya harus sekejam itu. Karena pilihannya hanya dua. Membiarkan saya kembali mengulang kisah lama (baca: diselingkuhi ujung2nya) atau berada di zona aman dengan berteman seperti ini saja.

Kami diam, terlalu lama diam, dan terlalu banyak diam dipertemuan tiba-tiba ini. Hingga akhirnya ponsel canggih itu berbunyi. Salah saya kepo, salah saya matanya masih kebangetan normal, sampe bisa baca nama siapa yang muncul di layar ponsel itu. Dia pamit menjauh untuk menjawab telepon itu. Saya hanya mengamati dari tempat saya duduk, membaca garis keras diwajah itu, membaca sorot mata kesal di balik kacamata frameless, membaca gerak bibir dan berusaha menafsirkan.

Beberapa menit kemudian dia kembali, tanpa tendeng aling-aling, dengan senyum khas -kalau lagi mau nyiyirin orang- saya berucap.

"Well, lemme guess... dia lagi nunggu lo di... entah mana, lo bilang gak bisa karena lagi ketemuan sama temen2 lama di luar kota."
"Hah?"
"I'm right. Yes?"

Dia diam, cuma diam lagi. Cuma segitu aja kah? Hah. Kali ini saya benar lagi kan. Tanpa merasa tersakiti saya tersenyum. Mensyukuri diri saya yang memilih kata tidak, mensyukuri diri saya yang sempat berucap: Cowo brengsek cenderung gak ngerasa dirinya brengsek!

Tapi dari semua itu saya juga berpikir, Ohhh how pathetic I Am. Tidak kah tersisa lagi lelaki yang masih memegang kesetiaannya, yang jujur dan mau berbagi sedih dan senang?

*sigh*

Monday, 2 January 2012

Livernya Cedera

Bertepatan dengan tahun baru saya mendapat kabar bahagia yang menyedihkan. Gebetan saya selama 6 tahun akhirnya nikah. Rasanya sudah menjadi rahasia umum siapa gebetan saya itu. So, gak usah sebut merek ya disini. ;p 

Waktu baca undangan itu saya cuma bisa tersenyum miris, abis mau gimana coba, mau nangis juga apa yang harus saya tangisi? Toh siapa sih saya ini dibanding dia yang pinter itu, siapa sih saya ini dibanding dia yang hafal beberapa Juz Al- Quran. (Saya mah Juz-Amma aja cuma hafal surat yang itu-itu aja.hha)

Dengan senyum dipaksakan saya menghubungi teman saya di lintas benua, yang baru saja menyambut tahun baru di negaranya. Dia orang yang cukup tahu banyak soal ngarepnya saya sama si pengirim undangan tersebut.


"Liver gw cedera nih" ketik saya di aplikasi chat di –katanya- smartphone.

"Hah?" (Gak ngerti istilah biologi kayaknya)

"Liver=hati"

"Hah?" (Okay cowo emang gak bisa diajak pake bahasa kiasan ya!)

"Hati gw lagi dicubit ma Tuhan"

"Oooh maksudnya sakit hati?"

"Beda, sakit hati kesannya gw disakitin, kalau ini cedera, akibat gw juga!"

"..."

"He getting married"

"Who?"

"Five word. Panca."

"..."

"..." (sibuk kali ya gak respons)

5 menit kemudian...

"Eh Btw, happy new year Rin... Firework disini keren banget!"

"..." *Sign off*


Sambil bete karena salah waktu curhat, saya cuma bisa bersyukur, akhirnya dia nikah diwaktu yang tepat. Gak kebayang kalau dia nikah di waktu saya lagi suka2nya, ini liver saya bisa koma seketika. Kalau sekarang kan livernya cedera doang, ya keserempet dikit lah, tapi gak bikin harus di opname.

Duuuh, semoga liver saya cepet pulih memarnya. Semoga gak ada yang nekat dateng ke akad dia sambil teriak "Liver gw gak berfungsi, gw butuh transplantasi liver (bener gak sih namanya transplantasi?), cuma liver lo yang cocok ndr**" 

Semoga juga, seminggu ini rumah sakit di penjuru indonesia punya banyak stok liver, buat ganti liver2 para perempauan yang cedera parah akibat undangan dari dia. Aamiin... 


*Mengheningkan cipta*

Tuesday, 18 May 2010

The Wrong Concept

Aku tidak percaya konsep kata salah. Menurutku semuanya benar.
Semua yang terjadi sudah sesuai dengan yang Tuhan tuliskan.
Aku juga tidak percaya pada konsep tidak mungkin.
Everything is possible for me.
Semua menjadi mungkin bila kita berusaha dan berdoa.
But Since I met him, I learn the wrong and impossible concept.

Sejak aku ketemu dia, semuanya jadi lebih jelas.
Tuhan kadang membuat kita belajar.
Belajar untuk menerima kenyataan kalau di dunia ini, gak semuanya benar.